Judul di atas adalah salah satu topik yang diberikan pada kuliah S2 saya. Suatu hal yang amat berharga mendapatkan kuliah tersebut dan very inspirative. Hormat saya pada Pak Ancok dosen saya tersebut.
Saya beranggapan, transformational Leaders termasuk dalam kategori Revolutioner thinkers, yang selalu berpikir out of the box…Sokaku Takeda, Morihei Ueshiba, Bruce Lee, Soekarno, dan terakhir adalah Barack Obama merupakan jajaran orang yang termasuk di kategori tersebut.
Sejarahnya dimulai ketika klan Aizu yang merupakan pendukung salah satu Shogun, dimana ketika shogunnya mengalami kekalahan, anggota keluarga Tanomo Saigo tersebut harus melakukan seppuku atau bunuh diri agar tidak menanggung rasa malu…
Yang luar biasa adalah taktik yang dilaksanakan oleh Tanomo Saigo tsb, krn dialah satu2nya yang tidak commit suicide, padahal menurut adat orang Jepang dikala itu, tindakan itu merupakan suatu tindakan yang amat memalukan…
Pendapat saya adalah tindakan itu diambil karena T Saigo merupakan seorang yang visioner berpandangan jauh ke depan, taktik tsb dilakukan agar dia seorang saja yang menanggung kesalahan suatu Klan, shg klan dan generasi berikutnya terlepas dari tanggung jawab tadi dan rasa malu, dan berikutnya adalah pandanganya tentang berakhirnya era Shogunate yang berarti jaman klan dan kasta2 serta klan akan hilang dari Jepang…
Perkataan itu tadi terutama berdasarkan ucapannya kepada Sokaku Takeda yaitu ” Era pedang sudah padam sekarang timbul era baru”.
Sebagai penebusan kesalahannya dia memasuki biara kemudian menjadi pendeta bernama Chikanori/Chikatoku Hosina, dan kemudian mengangkat seorang anak bernama Shiro Saigo sbg penerus,
Ternyata Shiro Saigo sbg penerus menurut pandangan saya , tidak mampu bahkan tidak mau untuk meneruskan visi dan misi ayahnya, kemungkinan beranggapan bahwa visi ayahnya merupakan visi penuh dendam, kemudian ilmu yang diwariskan kemungkinan akan punah dan terutama kasusnya kala itu ada bandwagon efek yang mana orang2 dunia persilatan beraliran jujutsu mengikuti jigoro kano untuk mendirikan Judo. Hal mana yang dimaksudkan demi untuk menyelamatkan diri golongannya dan beladirinya.
Dan ternyata tidak salah bahwa C Hosina memilih Sokaku Takeda sbg penerus, krn selain the Last Samurai pada jamannya, beliau ini merupakan seorang jenius. Beladiri Oshikiuchi merupakan beladiri istana dikala itu yang mencerminkan budaya Jepang masa lampau yang disimbolkan oleh pedang samurai, nah the heart of Samurai inilah yang diwariskan ke S Takeda dalam bentuk seni beladiri yang kemudian bernama Daito Ryu Aiki Jujutsu.
Nah Jika pada masa itu S Takeda ikut bergabung dengan Jigoro Kano membentuk Judo, maka nasib perjalanan beladiri ini tidak akan menjadi seperti sekarang ini, bela diri ini mewakili senibeladiri Aiki, mungkin satu2nya di Jepang yang mengajarkan secara intensif tentang prinsip2 Aiki ini.
Luar biasanya lagi S. Takeda tidak memiliki dojo dan melatih dengan cara berjalan keliling Jepang sampai akhir hayatnya, hal ini salah satu cara agar selain beladirinya teruji, dan penyebarannya juga merata dan sporadis untuk menjaga dari kepunahan.
Beladiri ini cerminan suatu peninggalan dari masa lampau yang berhasil dilestarikan sampai kini…
Ueshiba Morihei, juga merupakan seorang visioner, krn mampu membaca jaman yaitu ketika beladiri bujutsu menjadi budo dan akhirnya menjadi bushin, artinya kebutuhan dari embel-embel membunuh beladiri ini ditransformasikan menjadi beladiri penyelamat.
Transformasi juga dilakukan seiring dengan terjunnya Jepang ke kancah peperangan, kemudian, kenapa beladiri menjadi so pacifist despite of keyakinan O’Sensei sebagai penganut omoto kyo. Beladiri aikido mengarah kepada pembentukan jadi diri ketimbang menjadi beladiri yang mematikan. Hal ini adalah suatu keberhasilan ketika pandangan umu kala itu adalah dengan membunuh orang lain merupakan solusi satu2nya untuk survive, atau surviving the game.
Bruce Lee juga mengajarkan agar seseorang tidak terpatok pada waza, kata atau jurus dan tidak mengukir beladirinya di suatu prasasti
Masing orang tersebut tampak pada ajarannya, Aiki no Jutsu, Takemusu Aiki, ataupun Jet Kun Do, yang menganggap Yang tetap itu adalah perubahan, jadi jika ingin maju terus jangan takut akan perubahan…
Kebanyakan ideologi dilukis dan dicetak ke atas suatu batu karang yang kokoh dan menjadi dogma dan tidak boleh diutak atik, saya pikir paham seperti inilah yang akan punah,
Seharusnya manusia selalu men-challange pemikirannya sendiri karena tidak ada kebenaran yang mutlak dalam diri manusia, dan hal ini merupakan prinsip umum sama seperti siang dan malam.
Sama seperti kutu loncat, jika dimasukkan ke dalam kotak yang kecil dia akan melompat seukuran kotak yang kecil tadi, hal ini disebabkan pola pikirnya yang sempit itu tadi.
Kebenaran mutlak atau The Absolute Truth itu hanya ada di tangan sang Khalik, pemilik kehidupan, the organizer, sang Maha Kuasa.