Kalau menulis berdasarkan kurikulum akan membutuhkan sebuah buku agar dapat dijelaskan semuanya secara menyeluruh.
Yang saya coba tuliskan disini merupakan prinsip2 yang mungkin dikenal secara umum, teori atau metode belajar Aikido. Menurut pendapat suatu perguruan Aikido di Sby pada websitenya, tahapan belajar aikido adalah sbb:
First, Grand Master taught his early students 4 (four) subjects:
-
- ki-shin-tai no toitsu (the unity of ki-mind-body) – Koichi Tohei
- ki no nagare – Kishomaru
- ki musubi - Kishomaru
- (spontaneous) waza – Morihiro Saito
Later, to make the students understand his teachings easier, he taught several sets of waza which now known as:
Irimi nage, Kokyu nage, Shiho nage, etc.
(using old style and certain samurai style attacks)
Years after, he realized that:
-
- without AI (love), there will not be good AIKI nor Shin Budo, To attract with love
- without AIKI, there will not be real AIKI teachings Aiki Technics
- without the old time spontaneous waza, his teachings will not be true BUDO
Menurut pendapat saya pribadi, excerpt di atas merupakan kesimpulan pelatihnya sendiri, karena O Sensei sendiri berdasarkan buku karangan M Saito, menciptakan Aikido sesungguhnya berada di periode Iwama. Mungkin yang dimaksud dengan spontaneous waza adalah Takemusu Waza. Periode Iwama adalah periode terlama yang dijalani oleh O’Sensei dalam mengkompilasi aikido menjadi satu beladiri penuh.
Ki Shin Tai Toitsu justru muncul karena Tohei K, merasa hanya 30% teknik O’ Sensei yang efektif, karena ketika Tohei K, ke hawaii dan diadu dengan pegulat disana dia merasa ada sesuatu yang kurang.
Sedangkan Ki No Nagare atau Ki Musubi sndiri merupakan konsep dari Kisshomaru yang coba diterapkan untuk memudahkan mempelajari metode aikido, berhubung syllabus Aikido sendiri terlalu luas untuk dipelajari dan dikuasai dalam waktu singkat.
Yang paling dipertanyakan adalah pendapat yang menyatakan kalau O’Sensei baru menyadari untuk menarik (To attract) adalah dengan love…
sepertinya perguruan ini baru dapat informasi tentang beladiri AikiJujutsu yang mulai muncul ke permukaan. Karena dalam beladiri AikiJujutsu tidak ada Ai atau love, beladiri ini diciptakan untuk membunuh, minimal membuat cacat lawannya, jadi jika filosofi ini didengung-dengungkan semakin menunjukkan minimnya informasi awal tentang sejarah Aikido.
Pernyataan ini akan sangat kontradiktif dengan pernyataan Y Sagawa tentang Aiki method seperti di bawah ini, hal ini yang menyadarkan saya, jika inti atau the essence of Aikido masih jauh dari apa yang pernah diajarkan kepada saya, terutama di Indonesia.
Aiki is the harmonization of ki.
The entire universe sustains itself perfectly through harmonization. This harmony is aiki.
[Aiki] creates harmony without producing negative feelings or conflict because the ki of aiki is natural.
The harmony created by aiki must be a fundamental part of the foundation of human society.
This is known as the Global Harmony of Aiki (Aiki no Daienwa).
One should use the principle of aiki to harmonize with and de-escalate those threatening violence, and in the case where an enemy has already initiated an attack, rely completely on the principle of aiki to blend with or redirect their attack, which in turn produces a state of harmony.
We must seriously study (shugyo) the kihon (basics) – as well as the taijutsu (jujutsu), tachi no jutsu (swordsmanship), sojutsu (spearmanship), and bojutsu (staff techniques) – as passed down within the methods of aiki through its founder, Prince Shinra Saburo Minamoto Yoshimitsu, then strive to reach the Way found in the martial art of aiki (aiki no budo), which is synonymous with the Way of human cultivation and development (ningen shuyo).