Walaupun rata2 perkembangan Aikido di Indonesia belum mengarah kepada apa yang merupakan inti dari aikido yang diciptakan oleh founder atau O Sensei, tapi secara umum, Aikido mengusung disiplin mengenai resolusi konflik, baik internal maupun eksternal baik relasi vertikal maupun relasi horisontal, singkatnya Bela Diri Damai. Kata-kata bela diri sebenarnya tidak bisa menggantikan arti kata Budo, krn secara prinsip, kata bela diri terlalu sempit. Terutama jika dikonotasikan dengan paradigma beladiri yang ada di Indonesia.
Secara umum bela diri di indonesia menitik beratkan ke seni pertarungan, teknik2 melepaskan-melakukan pukulan/tendangan/kuncian/lipatan dan dilatih untuk aduan atau saling berantem bahkan diperlombakan….
Hasil yang diharapkan adalah kemampuan untuk mengalahkan lawan dalam tempo yang cepat.
Sebaliknya latihan di Aikido sama sekali tidak mencerminkan adanya suatu konflik ajang pertarungan bahkan lebih tepatnya mengutamakan kerja sama team work karena latihan berpasangan dan kelemahlembutan gerakan, tanpa didasari gerakan yang menyentak atau mendadak. Istilah randori digunakan untuk perkelahian bebas atau jiyuwaza dalam rangka demonstrasi, latihan sesungguhnya lebih menitik beratkan pada olah rasa dan karsa (pikiran – will power).
Hal ini juga yang merupakan hambatan untuk berkembangnya Aikido, karena biasanya murid2 baru mengharapkan suatu ilmu “bela diri” yang combatant sifatnya dan dilatih untuk bersifat agresif…
Suatu hal yang akan mengejutkan mereka pemula karena jika Pelatihnya akan menunjukkan bahwa sifat agresif akan menyebabkan agresor tadi melukai dirinya sendiri.