AIKIDO di Internet

Mei 30, 2008

NINJA

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 1:48 am

Ninja Mei 5, 2008

Posted by eikichionizuka in All About Japan.
trackback

 

Shinobi atau Ninja (dalam bahasa Jepang:忍者, harafiah, “Seseorang yang bergerak secara rahasia”) adalah seorang pembunuh yang terlatih dalam seni ninjutsu (secara kasarnya seni pergerakan sunyi) Jepang. Ninja, seperti samurai, mematuhi peraturan khas mereka sendiri, yang disebut ninpo. Menurut sebagian pengamat ninjutsu, keahlian seorang ninja bukanlah pembunuhan tetapi penyusupan. Ninja berasal dari bahasa Jepang yang berbunyi Nin yang artinya menyusup. Jadi, keahlian khusus seorang ninja adalah menyusup dengan atau tanpa suara.

NINJA

Kagetora, Naruto, Ninja Rantaro, adalah contoh kecil manga yang mengangkat ninja sebagai tema utamanya. Apa ninja itu? Sama seperti yang dikisahkan dalam berbagai cerita bahwa ninja itu penuh rahasia. Ninja biasanya segera dikaitkan dengan sosok yng terampil beladiri, ahli menyusup dan serba misterius seperti yang tampak di dalam film atau manga. Dalam kenyataannya penampilan ninja yang serba hitam ada benarnya, namun jika ada anggapan bahwa ninja identik dengan pembunuh brutal, berdarah dingin, pembuat onar, tukang sabotase, tidak demikian adanya.

Kata ninja terbentuk dari dua kata yaitu nin dan sha yang masing-masing artinya adalah tersembunyi dan orang. Jadi ninja adalah mata-mata profesional pada zaman feudal jepang. Sejarah ninja juga sangat sulit dilacak. Info mengenai keberadaan mereka tersimpan rapat-rapat dalam dokumen-dokumen rahasia.

Ninja juga bisa diartikan sebagai nama yang diberikan kepada seseorang yang menguasai dan mendalami seni bela diri ninjutsu. Nin artinya pertahanan dan jutsu adalah seni atau cara. Kata ninja juga diambil dari kata ninpo. Po artinya adalah falsafah hidup atau dengan kata lain ninpo adalah falsafah tertinggi dari ilmu beladiri ninjutsu yang menjadi dasar kehidupan seorang ninja. Jadi ninja akan selalu waspada dan terintregasi pada prinsip ninpo.

Ninja dalah mata-mata profesionl di jaman ketika para samurai masih memegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan jepang pada abad 12. Pada abad 14 pertarungan memperebutkan kekuasaan semakin memanas, informasi tentang aktifitas dan kekuatan lawan menjadi penting, dan para ninja pun semakin aktif.

Para ninja dipanggil oleh daimyo untuk mengumpulkan informasi, merusak dan menghancurkan gudang persenjataan ataupun gudang makanan, serta untuk memimpin pasukan penyerbuan di malam hari.karena itu ninja memperoleh latiham khusus. Ninja tetap aktif sampai jaman edo (1600-1868), dimana akhirnya kekuasaan dibenahi oleh pemerintah di zaman edo.

ASAL-USUL NINJA

Kemunculan ninja pada tahun 522 berhubungan erat dengan masuknya seni nonuse ke Jepang. Seni nonuse inilah yang membuka jalan bagi lahirnya ninja. Seni nonuse atau yang biasa disebut seni bertindak diam-diam adalah suatu praktek keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan. Sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut menyempurnakan kemampuan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat.

Pada tahun 794-1192, kehidupan masyarakat jepang mulai berkembang dan melahirkan kelas-kelas baru berdasarkan kekayaan. Keluarga kelas ini saling bertarung satu sama lain dalam usahanya menggulingkan kekaisaran. Kebutuhan keluarga akan pembunuh dan mata-mata semakin meningkat untuk memperebutkan kekuasaan. Karena itu permintaan akan para praktisi nonuse semakin meningkat. Inilah awal kelahiran ninja. Pada abad ke-16 ninja sudah dikenal dan eksis sebagai suatu keluarga atau klan di kota Iga atau Koga. Ninja pada saat itu merupakan profesi yang berhubungan erat dengan itelijen tingkat tinggi dalam pemerintah feodal para raja di jepang. Berdasarkan hal itu, masing-masing klan memiliki tradisi mengajarkan ilmu beladiri secara rahasia dalam keluarganya saja. Ilmu beladiri yang kemudian dikenal dengan nama ninjutsu. Dalah ilmu yang diwariskan dari leluhur mereka dan atas hasil penyempurnaan seni berperang selama puluhan generasi. Menurut para ahli sejarah hal itu telah berlangsung selama lebih dari 4 abad. Ilmu itu meliputi falsafah bushido, spionase, taktik perang komando, tenaga dalam, tenaga supranatural, dan berbagai jenis bela diri lain yang tumbuh dan berkembang menurut jaman.

Namun ada sebuah catatan sejarah yang mengatakan bahwa sekitar abad ke-9 terjadi eksodus dari cina ke jepang. Hal ini terjadi karena runtuhnya dinasti tang dan adanya pergolakan politik. Sehingga banyak pengungsi yang mencari perlindungan ke jepang.sebagian dari mereka adalah jendral besar, prajurit dan biksu. Mereka menetap di propinsi Iga, di tengah pulau honsu. Jendral tersebut antara lain Cho Gyokko, Ikai Cho Busho membawa pengetahuan mereka dan membaur dengan kebudayaan setempat. Strategi militer, filsafat kepercayaan, konsep kebudayaan, ilmu pengobatan tradisional, dan falsafah tradisional. Semuanya menyatu dengan kebiasaan setempat yang akhirnya membentuk ilmu yang bernama ninjutsu.

BELA DIRI NINJUTSU

Gerakan beladiri ninjutsu hanya tendangan, lemparan, patahan, dan serangan. Kemudian dilengkapi dengan teknik pertahanan dri seperti jatuha, rolling dan teknik bantu seperti meloloskan diri, mengendap, dan teknik khusus lainnya. Namun, dalam prakteknya ninja menghindari kontak langsung dengan lawannya, oleh karena itu berbagai alat lempar, lontar, tembak, dan penyamaran lebih sering digunakan. Berbeda dengan seni beladiri lain. Ninjutsu mengajarakan teknik spionase, sabotase, melumpuhkan lawan, dan menjatuhkan mental lawan. Ilmu tersebut digunakan untuk melindungi keluarga ninja mereka. Apa yang dilakukan ninja memang sulit dimengerti. Pada satu sisi harus bertempur untuk melindungi, di sisi lain ninja harus menerapkan “berperilaku kejam dan licik” saat menggunakan jurus untuk menghadapi lawan. Disisi lain ajaran ninpo memberi petunjuk bahwa salah satu tujuan ninjutsu adalah mengaktifkan indra keenam mereka. paduan intuisi dan kekuatan fisik pada jangka waktu yang lama memungkinkan para ninja untuk mengaktifkan indra keenamnya. Sehingga dapat mengenal orang lain dengan baik dan mengerti berbagai persoalan dalam berbagai disiplin ilmu.

Di dalam ninpo terdapat teknik beladiri tangan kosong (taijutsu), teknik pedang (kenjutsu), teknik bahan peledak dan senjata api (kajutsu), teknik hipnotis (saimonjutsu), dan teknik ilusi(genjutsu). Pada aliran togaku ryu dikenal adanya energi yang disebut kuji kiri. Prinsipnya adalah penggabungan antara kekuatan fisik dan mental. Penyaluran energi yang tepat dari tenaga kuji kiri dapat bersifat menghancurkan, namun disisi lain jika digunakan untuk olah pikir dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang pelik.

Ninjutsu akan sia-sia jika ninja tidak memiliki mental dan spiritual yang kuat. Untuk itu ninja harus menguasai kuji-in, yaitu kekuatan spiritual dan mental berdasarkan simbol yang terdapat di telapak tangan yang dipercaya menjadi saluran energi. Simbol di tangan di ambil dari praktek pada massa awal penyebaran agama budha. Kuji-in digunakan untuk membangun kepercayaan diri dan kekuatan seorang ninja. Kuji-in mampu meningkatkan kepekaan terhadap keadaan bahaya dan mendeteksi adanya kematian.

Dari 81 simbol yang ada, hanya 9 yang utama, yaitu rin(memberi kekuatan tubuh), hei (memberi kekuatan menyamarkan kehadiran seseorang), Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh), sha (kemampuan menyembuhkan), kai(memberi kontrol menyeluruh terhadap fungsi tubuh), jin(meningkatkan kekuatan telepati), retsu (memberi kekuatan telekinetik), zai (meningkatkan keselarasan terhadap alam), dan zen (memberi pencerahan pikiran dan pemahaman). Seorang ninja akan menjadi master sejati dengan menguasai simbol-simbol ini.

Walaupun terdapat banyak keluarga ninja di jepang, baru sekitar tahun enam puluhan keluarga ninja baru dapat di dekati oleh orang luar. Sejak ninja dinyatakan terlarang oleh shogun tokugawa pada abad 17. pada tahun 1950 larangan tersebut dicabut oleh pemerintah Jepang. Pada tahun 1960 televisi jepang menayangkan laporan dokumentasi dan sejarah ninja. Setelah itu salah satu aliran yang dapat membuka diri dan memperkenalkan ninja ke dunia luar adalah aliran togakure-ryu dengan pewaris dari generasi ke 34, masaaki hatsume,.yang profesi sehari-harinya adalah seorang tabib ahli penyembuhan dan pengobatan tulang. Pada tahun 1978 ninjutsu berhasil di publikasikan dan diajarkan ke amerika oleh stephen k. hayes. Sejak saat itu ninjutsu menjadi cabang beladiri yang paling banyak diminati.

 

PERALATAN NINJA

Ninja diharuskan untuk bisa bertahan hidup di tengah alam, karena itu mereka menjadi terlatih secara alamiah untuk mampu membedakan tumbuhan yang bisa dimakan, tumbuhan racun, dan tumbuhan obat. Mereka memiliki metode cerdik untuk mengetahui waktu dan mata angin. Ninja menggunakan bintang sebagai alat navigasi mereka ketika menjalankan misi di malam hari.mereka juga mahir memasang perangkap, memasak hewan, membangun tempat berlindung, menemukan air dan membuat api.

Ninja memakai baju yang menutup tubuh mereka kecuali telapak tangan dan seputar mata. Baju ninja ini disebut shinobi shozoko. shinobi shozoko memiliki 3 warna. Baju warna hitam biasanya dipakai ketika melakukan misi di malam hari dan bisa juga sebagai tanda kematian yang nyata bagi sang target. Warna putih digunakan untuk misi di hari bersalju. Warna hijau sebagai kamuflase agar mereka tidak terlihat dalam lingkungan hutan.

Shinobi shozoko memiliki banyak kantong di dalam dan luarnya. Kantong ini digunakan untuk menyimpan peralatan kecil dan senjata yang mereka butuhkan, seperti racun, shuriken, pisau, bom asap dan lain-lain. Ninja juga membawa kotak P3K kecil tradisional, yang diisi dengan cairan dan minuman. Ninja juga memakai tabi yang mirip sepatu boot. Celah yang memisahkan jempol kaki dengan jari lainnya memudahkan ninja saat memanjat tali atau dinding.

Ninja wanita atau kunoichi yang biasanya bekerja dengan menggunakan kefemininan mereka ketika melakukan pendekatan pada sang target menggunakan manipulasi kejiwaan dan perang batin sebagai senjata mereka. mereka bisa mendekati target dan membunuhnya tanpa jejak. Kunoichi memiliki misi yang berbeda dengan ninja laki-laki. Mereka lebih sering dekat dengan target, sehingga mereka juga lebih sering menggunakan senjata jarak dekat seperti metsubishi, racun, golok, tali, dan tessen. Selain itu senjata-senjata tersebut juga praktis dibawa tanpa kelihatan.

Ninja memiliki senjata dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran. Selain senjata standar seperti pedang, naginata, panah, dan pisau, ada pula tessen (kipas yang bila dikibaskan keluar racun), shobo, kyoketsu shogei, neko te, dan lain-lain. Peralatan canggih ninja lainnya adalah kaginawa(jangkar bertali) untuk memanjat dinding, ashiaro untuk membuat jejak kaki palsu agar tidak terlacak saat menjalankan misi, metsubishi(cangkang telur yang diisi dengan pasir dan serbuk logam, biasanya juga kotoran tikus) yang berfungsi untuk membutakan lawan.

ORGANISASI

Saat ninjutsu mulai memiliki bentuknya, ninja berkembang menjadi sistem organisasi untuk menjaga kerahasiaannya. Di dalam organisasi terdapat tiga tingkatan yang berbeda jenis pekerjaan dan tanggung jawabnya.

Setiap organisasi memiliki komandan yang disebut dengan jonin. Jonin mengendalikan aktifitas orgnisasi ninja, dan mengabil keputusan siapa yang akan dibantu dan atas dasar nilai apa. Jonin adalah orang bijak yang tahu segala informasi kejadian di dalam wilayahnya. Keputusannya berdasarkan pengertian filosofi dari bagan keseluruhan, dan ia terpanggil untuk membantu orang lain karena peduli akan kebenaran dan keharusan. Jonin adalah penjaga keharmonisan, membantu yang tertindas.

Jonin mengurangi dirinya dari resiko bahaya dengan tetap merahasiakan dirinya dari kebanyakan agennya. Ini memungkinkan agenya agar tidak dapat memberikan identitasnya atau menjual informasi terhadap organisasi saingan. Jonin dapat menugaskan beberapa agen dalam misi yang sama tanpa sepengetahuan mereka, untuk mencegah adanya pengkhianatan. Dengan menerima sedikit informasi dari semua agennya, jonin menjadi orang yang paling tahu gambaran lengkap akan situasi yang ada. Sistem komando tak terlihat ini juga menjadi inspirasi bagi organisasi kriminal modern karena alasan yang sama.

Yang bekerja untuk jonin adalah chunin(orang tengah). Kelompok ini bertugas mengorganisasi operasi yang ditetapkan jonin. Chunin tahu cara melaksanakan misi dan agen mana yang harus dia pakai untuk tugas tertentu. Ia bertindak sebagai penyangga, membawa perintah dari jonin ke lapangan untuk menjamin keamanan dan rahasia sang pemimpin.

Chunin jarang mengambil peran sebagai agen. Dalam pelatihan ninja, stra tegi dan manajemen yang efektif menjadi perhatian utama mereka.

Agen lapangan biasa disebut genin. Genin bertugas melaksanakan rencana atasannya. Saat tidak bertugas genin biasanya tinggal dengan keluarga mereka dalam dusun rahasia yang terpencil atau yang terkenal dengan nama perkampungan ninja, yang terletak di pegunungan yang sukar dicapai. Tampil sebagai petani ninja dapat terus berlatih tanpa terus menerus waspada. Karena sistem organisasi tertutup, dua kelompok genin seringkali tidak menduga bahwa mereka bekerja untuk jonin yang sama.

Ninja harus membaktikan dirinya untuk ninjutsu. Tidak ada ampun untuk ninja pembelot, mereka akan dicari dan menerima hukuman dari pimpinan keluarga Ninja. Umumnya ninja yang dihukum tersebut dibunuh.

Pantang bagi ninja membuka identitasnya di muka umum. Bila hal itu terjadi maka ninja akan merusak wajahnya dan bunuh diri. untuk menutupi dirinya seorang ninja sangat ahli menyamar. tak heran jika ninja punya banyak rumah, istri, dan anak agar tidak bisa didekteksi musuh.

PELATIHAN

Pada saat anak-anak ninja telah dilatih untuk waspada dan dididik dalam kerahasiaan dan tradisi ilmu mereka. Pada umur 5-6 tahun mereka diperkenalkan dengan permainan ketangkasan dan keseimbangan tubuh. Anak-anak disuruh berjalan diatas papan titian yang sangat keci, mendaki papan yang terjal, dan melompati semak-semak yang berduri. Pada umur 9 tahun mereka dilatih untuk kelenturan otot. Anak-anak berlatih berguling dan meloncat. Setelah itu anak-anak diajarkan teknik memukul dan menendang pada target jerami yang di ikat. Setelah itu pelatihan meningkat ke seni bela diri tanpa senjata dan setelahnya dasar-dasar menggunakan pedang dan tongkat.

Pada masa remaja mereka diajari cara menggunakan senjata khusus. Melempar pisau, penyembunyian senjata, teknik tali, berenang, taktik bawah air, dan teknik menggunakan alam untuk mendapat informasai atau untuk menyembunyikan diri. Waktu mereka dihabiskan dalam ruang tertutup atau bergelantungan di pohon untuk membangun kesabaran, daya tahan, dan stamina. Terdapat pula latihan gerak tanpa suara dan lari jarak jauh. Mereka juga diajarkan teknik melompat dari pohon ke pohon atau atap ke atap.

Pada masa akir remaja ninja belajar menjadi aktor dan psikologi melalui tingkah laku mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka mulai mengerti cara bekerja jiwa manusia, menggunakan kelemahan orang lain untuk keuntungan mereka. Mereka juga belajar membuat obat-obatan, mendapatkan jalan masuk rahasia ke dalam sebuah bangunan, cara memanjat dinding, melewati atap, mencuri di bawah rantai, mengikat musuh, cara kabur, dan menggambar peta, rute, petunjuk jalan, serta wajah.

Ada 18 tingkat ilmu dan seni berperang ninjutsu dari banyak keahlian yang dimiliki oleh ninja yang dapat dipelajari oleh umum pada saat ini. Selebihnya di luar keterampilan fisik dan penguasaan jiwa, para pendekar ini harus mempelajari latihan batin. Setelah menguasai level ini, ninja bisa sangat ahli dan bahkn dianggap sebagai orang bijak atu dukun, karena kemampuannya menyatu dengan alam dan siklus di sekitarnya. Delapan belas keahlian tersebut adalah:

  1. seishin teki kyoyo (pemurnian jiwa)
    ninja aliran tokakure sangat mengandalkan pengenalan jati diri. Seorang ninja harus mengetahui dengan tepat komitmen dan motivasi hidupnya. Dengan pemahaman dan penghayatan terhadap proses pematangan seorang ninja bisa menjadi seorang pendekar yang bijak. Keterlibatan ninja dalam pertarungan dimotivasi oleh alasan untuk melindungi. Tidak dibenarkan jika alasannya semata-mata hanya karena uang.
  2. tai jutsu (bertarung dengan tangan kosong)
    paduan dari ilmu daken taijutsu(pukul, tendng, tangkis), ju taijutsu(gumul, mencekik, meloloskan dari kuncian), taihen jutsu(gerak tanpa suara, berguling, melompat, cara jatuh). Keterampilan ini di perlukan pada situasi terancam atau bertahan
  3. ninja ken (pedang ninja)
    pedang ninja adalah pedang pedek lurus bermata tunggal. Pedang adalah senjata utama ninja. Untuk menggunakan pedang dituntut dua keahlian utama yaitu ilmu menarik pedang (dg kecepatan namun halus gerakannya ) sekaligus mengayun untuk memotong.
  4. bo jutsu (jurus tongkat dan bilah)
    ada 2 jenis tongkat, tongkat panjang sekitar 2 meter(bo) dan tongkat pendek sekitar satu meter(hanbo). Ada lagi senjata dari bilah bambu yang bila di buka di dalamnya ada mata pedang yang sekilas tampak seperti tongkat biasa.
  5. shuriken jutsu (senjata lempar)
    ilmu lempar berupa lempeng baja dengan mata tajam bersisi empat seperti bintang(senban shuriken) atau paku lempar(bo shuriken). Senban shuriken dilempar dengan cara dipuntir agar bisa menancap dan memberi efek gergaji. Bo shuriken dilempar bersamaan beberapa buah sehingga terlihat seperti kilatan jarum.
  6. yari jutsu(jurus tombak)
    tombak digunakan untuk pertarungan jarak sedang untuk menangkis dan meredam serangan lawan.
  7. naginata jutsu(jurus pedang bertongkat)
    pedang pendek yang gagangnya dibuat panjang seukuran tombak. Digunakan ninja untuk memotong lawan yang berada dalam jarak sedang. Bisa digunakan untuk menyerang samurai dan merobohkan tentara berkuda.
  8. kusari gama (jurus rantai dan bandul)
    berupa rantai sepanjang 2-3 meter yang diberi bandul pada salah satu ujungnya. Pada ujung yang lain dikaitkan pada gagang arit tradisional jepang. Rantai digunakan untuk menangkis serangan senjata lawan.sedangkan bilah arit digunakan untuk menghabisi lawan yang sudah terjerat. Senjata rantai dan bandul yang disukai oleh para ninja aliran togakure adalah kyoketsu yaitu belati lengkung yang gagangnya dipasangi tali halus dari rambut kuda dan ujung tali satu lagi diberi cincin baja besar.
  9. henso jutsu (ilmu menyamar dan membaur)
    ilmu ini sangat diperlukan pada saat spionase. Ninja membuat identitas palsu dan mengalihkan perhatian orang. Ninja juga bergerak tanpa bisa di lacak.
  10. shinobi iri (ilmu mengintai dan menyusup)
    ilmu ini mengajarkan bergerak tanpa suara dan bersembunyi di bawah bayangan.
  11. ba jutsu
    seorang ninja harus bisa bertempur di atas kuda selain menunggang kuda dengan baik di segala medan.
  12. sui ren (ilmu tempur dalam air)
    meliputi teknik mengintai dengan cara berenang, bergerak tanpa suara dalam air, cara menggunakan perahu khusus untuk mengapung dalam air, dan teknik perkelahian dalam air.
  13. bo ryaku (ilmu strategi)
    ilmu taktik yang tak lazim digunakan dalam kondisi bertahan atau pertarungan terbuka. Ninja sering memanfaatkan kondisi sekitarnya untuk melaksanakan tugasnya, tanpa banyak mengeluarkan energi.
  14. cho ho (ilmu spionase)
    ilmu mata-mata termasuk merekrut dan memakai orang yang digunakan sebagai mata-mata.
  15. inton jutsu (teknik meloloskan diri dan menghilang)
    ninja pandai meloloskan diri dengan memanfaatkan keadaan alam yang ada.
  16. ten mon (meteorologi)
    memanfaatkan cuaca juga merupakan senjata utama ninja. Sejak kecil mereka dilatih mengendalikan cuaca dari tanda-tanda alam yang kecil.
  17. chi mon (geografi)
    teknik pemanfaatan lahan.

FILOSOFI NINJA

Filosofi ninja adalah meraih hasil maksimal dengan tenaga minimum. Muslihat dan taktik lebih sering dilakukan daripada konfrontasi langsung.

Ninja tidak memiliki status mulia seperti samurai, sehingga ninja bebas melakukan apapun untuk mengatasi masalah, tanpa terikat oleh nama baik keluarga dan kehormatan.

Mei 28, 2008

Seminar Sugano Shihan

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 7:50 am
Tags:
Start:      Jul 20, ‘08 1:00p
End:      Jul 20, ‘08 5:00p

Shihan : Seiichi Sugano Shihan (8th Dan)

Hari : Minggu

Biaya : Rp 150.000,-
Rp 350.000,- (bagi peminat non YIA)

Seminar Yamada Shihan

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 7:47 am
Tags:
Start:      Jun 1, ‘08 1:00p
End:      Jun 1, ‘08 5:00p
Location:      Lapangan basket STC – Senayan

Shihan : Hironobu Yamada Shihan (7th Dan)

Biaya : Rp 100.000,-

Hari : Minggu

Aikido Geneology

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 6:13 am

Perlu untuk diketahui para Aikidoka, sejarah asal-usul beladiri yang dipelajarinya.

 

A History of Daito Ryu Aiki Jujutsu

  • Shinka Saburo Yoshimitsu, 12th Century, Daido-ryu
  • Saigo Chikamasa, 1829-1905, Oshikiuchi
    • Takeda Sogaku, 1858-1943, Aikijujutsu
      • Takeda Koechi (son of Sogaku)
      • Yong Sul Choi, Hapkido, Derivative Traditional
      • Shodo Morita, Nihon Goshin Aikido, Derivative Traditional
      • Matsuda Hosaku
        • Okuyama Yoshiji, Hakko-ryu, Derivative Traditional
          • Nakano Michiomi, Shorinji Kempo Derivative Traditional
        • Yamashita Minoru, Shindo-ryu
          • Yamada Saburo, 1926-1976, Yamate-ryu Derivative Traditional
      • Takeda Tokimune, 1925-, Daito-ryu Aikijutsu, Aikibudo, Main-line Traditional
      • Ueshiba Morihei, 1883-1969, (with Uyeshiba Kisshomaru) Aikido, Derivative Modern
        • Tanaka Setaro, Shinriaku Heiho
        • Mochizuki, Yoseikan
        • Fukui Harunosuke, Yae-ryu
        • Shioda Gozo, Yoshinkan
        • Otsuki Yutaka, Otsuki-ryu
        • Inouye, Shinwa Taido
        • Hoshi Tetsuomi, Hoshi-ryu Kobujutsu
        • Hirai Minoru, Korindo
        • Tomiki Kenji, Tomiki-ryu
        • Noguchi Senryuken, Shindo Rokugo-ryu
        • Tomei/Tohei Koichi, Ki no Kenkyukai/Shinshin Toitsu
        • Ueshiba Kisshomaru (son of Morihei), 1921-, (with Ueshiba Morihei) Aikido, Main-Line Modern

Sejarah Daito Ryu Aiki Jutsu

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 6:12 am

Daito-Ryu is said to have been founded by Minamoto no Shinra Saburo Yoshimitsu (1045-1127), the last grandson of emperor Seiwa. Yoshimitsu, was the younger brother of Minamoto no Hachiman Taro Yoshiie (1041- 1108), who was considered to be the greatest warrior in all of Japanese History. It’s very likely that the earlier combat methods of the Minamoto clan were actually just refined and perfected by General Yoshimitsu, and his elder brother Yoshiie.Yoshimitsu, was a teacher of so-jutsu (spear), To- ho (sword methods), and Tai-jutsu (body arts), as well as archery, and he was noted firstly, for having dissected the cadavers of executed criminals and slain enemy soldiers of the “Three-year war” (1083). Through this study of the structure of the human body he mastered Gyakute and Ichigeki Hissatsu (techniques of killing with one blow); secondly, by watching the silk spider catch it’s prey, he obtained a hint which led to the discovery of the core of Aiki. Therefore Yoshimitsu is considered to be the one who originally developed the techniques of Daito-Ryu by adding to the previous secret techniques of the Minamoto clan, and passing those techniques down to the Takeda family of Kai.

In 1573 Kunitsugu Takeda, a relative of Takeda Shingen was appointed governor of Aizu, and moved his family, and retainers there. It was at this time that the traditional art of Daito-Ryu took form. Daito-Ryu (also called Goshikinai ), became the official self- defense art at the Aizu castle. The successive lords, and their bodyguards practiced it as the secret art of the Aizu clan, and passed it on until the fall of the Shogunate.

According to history, only the chief samurai’s with an income of more than 500 koku, the pageboys, the court ladies, and those who served directly under the Shogun, were allowed to learn the art.

Daito-Ryu was first introduced to the world by Sokaku Takeda (1860-1943), after the Meiji era. Before that time, details were hardly known, and it wasn’t shown to the public. The “Aiki ” technique that Sokaku had mastered was strongly influenced by Jujutsu, as evidenced by photo’s published in a book by Takuma Hisa, which shows Sokaku twisting his opponents by force, using kansetsu waza (joint locking) similar to Aikido and Jujutsu. This is apparently what he usually taught.

Records show that Sokaku taught some thirty- thousand students, mostly police officers, military officers, and public officials of high standing. One of whom was Morihei Ueshiba, who later founded Aikido. Out of all these, only a handful qualified, and received the certificate of “The acting instructor”. These, and their divergent schools are the only authentic successors of Daito-Ryu.

Sokaku Takeda opened the doors of Aiki wide, but he himself died without having succeeded to wipe out the after-images of Jujutsu. It was up to his successors to further develop and pass on the essence of Daito-Ryu Aiki Jujutsu.

 

 

Daito Ryu Aspects

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 6:10 am

Teknik yang coba saya excerpts di sini originally datangnya dari Organisasi Daito Ryu Roppokai, dengan Soshi Okamoto Shihan sbg guru besarnya.

Mr. Seigo Okamoto, was born in Yubari, Hokkaido in 1925. It was in 1963 that Mr. Okamoto at the recommendation of a friend, entered the Kodo Kai Dojo of master Horikawa. He had never heard of Daito-Ryu until then. He just entered out of curiosity, having heard about a master who did mysterious things. At that time Mr. Okamoto was already 38 years old.

At first Mr. Okamoto thought that the fights were fake, he couldn’t believe that the small master Horikawa was really throwing 4 to 5 students instantly down, although they attacked all at once. However, when he was facing the master, the moment he made contact with the master’s finger he was thrown down to the floor. Admiring the master’s great technique, he continued to train and follow the path of Aiki.

Okamoto recalls that the training was extremely tough in those days in Hokkaido, and only after two to three years did he become good at ukemi (falling). He admits that he didn’t understand very much about the training then. Gradually, he became able to use Aiki and soon he became regarded as the most senior. After ten years he began to teach in place of the master. In 1974 Mr. Okamoto was promoted to 7th dan.

In 1977 Okamoto sensei moved to Tokyo. Master Horikawa then gave him permission to open the Tokyo branch of Daito Ryu Aiki Jujutsu Kodo Kai, and also gave him the “master certificate”, and told him that having mastered Aiki, he could now create new techniques freely.

In the old days, one had to train for several years at least, before actually being able to touch the master’s hand. And one received only the technical training, it was unthinkable to ask for explanation’s. The opposite is the case at master Okamoto’s Roppokai.

The most secret techniques, as well as the essence of the art are taught frankly by master Okamoto to all the students alike. No distinctions are made between beginning, and senior students in training. During practice, opponents are constantly changed so that everyone trains with everyone. This is a unique training system designed by master Okamoto for the Roppokai.

People joined the Roppokai in large numbers, all attracted by master Okamoto’s excellent techniques, generous personality, and unique training method. There are many who have extensive experience, and hold high ranks in other martial arts, who have become Okamoto sensei’s students, and joined the Roppokai in search of the essence of”Aiki” .

What is “Aiki” ? The word Aiki is not unique to Daito-Ryu alone. The word Aiki can be found in the documents of some other schools as well. But the meaning of Aiki was limited to idealized, or abstract concepts such as: “to adjust to the opponents Ki” , or “deceiving the opponent by synchronizing with his force in order to parry”. Whereas the “Aiki” of Daito-Ryu is a pure technique, and it is the very heart of Daito-Ryu. That means, no matter how the enemy attacks, the moment he touches you, he is disarmed instantly, unable to resist when you counter attack with a throwing, striking, or locking technique.

If you are subjected to Aiki, the instant you’re touched, your body becomes rigid as if struck by lightning, and your opponent can handle you without your being able to put up any resistance. “Aiki” cannot be understood by just watching from a distance. The only way to understand the feeling of “Aiki” is to experience the master’s technique personally, on your own body. Master Okamoto’s teaching in the Roppokai is a repetition of Aiki, Aiki, and nothing but Aiki. In this manner, students are taught the essence of Daito-Ryu techniques through repeated experience, and practice. It is Okamoto sensei’s wish that many people will become interested in Daito-Ryu, and will learn to understand it.

****************************************************************************************************************************

This information was basically condensed from an English translation of Okamoto Sensei’s book, “The Phantom Technique of Daito-Ryu”

 dikutip dari :Hwarangdo.org

Mei 27, 2008

The Marvels of Ki

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 2:48 am
Tags:

The Marvels of Ki

 

As aikido enters its sixth decade of existence, many practitioners appear disillusioned with the possibility that it does not offer the tools or training methodologies necessary to reach the level of skill of its illustrious founder, Morihei Ueshiba. It is often touted that no one in the modern aikido community can match the level of expertise attained by Ueshiba because none have undergone the same training or endured the same experiences. This certainly seems a valid argument on the surface, but misses the crucial fact that few people really know what Ueshiba’s capabilities were. The purpose of this article, however, is not to make unfair comparisons of skill level but to dissect the niceties of one of the most often used examples of Ueshiba sensei’s superiority—his apparent ability to resist a horizontal push to a bokken (or jo) held by his outstretched arm.
When I first saw a photo of this remarkable feat, it was used as an illustration of the Japanese concept of ki. As I had just been shown the famous “unbendable arm,” I naturally assumed that this must be, in some form or another, an extension of a similar concept. Perhaps, by “extending ki,” the bokken could be made immovable in the same way that the arm is made unbendable. That notion soon died off, however, with the discovery that the “unbendable arm” was really just efficient usage of musculature. No discussion of ki necessary. Although efficient muscle usage would be of great help in the bokken trick, it certainly isn’t enough to explain how Ueshiba was able to deal with the summative force of three men pushing.
In recent years, a new theory has gained increasing acceptance. Supposedly, the theory goes, Ueshiba was somehow able to “ground” the incoming force so that a push against the bokken (and the resulting torque) would be counteracted by subtle changes of position and peculiar body alignments. This sounded much more promising, at least initially, but I soon had to rule it out as well. Regardless of Ueshiba’s supposed level of strength, no man on earth could possibly “ground” an incoming horizontal force of that magnitude in the manner described. The mechanics involved quickly proved themselves to be nonsense.
There is absolutely no way that Ueshiba would have been able to transmit the entirety of a predominately horizontal force vertically through his body and into the ground, though this is often how the performance is viewed. It is erroneous to think that a static (or even semi-static) structure is capable of converting a horizontal force into a vertical one through specific alignments. Forces simply cannot be redirected through the body in this manner, no matter how it is aligned. The human body can only be made somewhat “immovable” by being held in such a way that an incoming force acts to move the body as a coherent unit in either a horizontal translation or rotation around a vertical axis. In this way, friction will be a major contributing factor to the maintaining of equilibrium. The only possible explanation for the bokken demonstration (at least mechanically), is that Ueshiba simply aligned himself in this manner and, as a result, friction held him place. Unfortunately, to do this he would be forced to depend on the comparatively weak muscles of his shoulders. Regardless of the quality of Ueshiba’s body alignment, he would still have to rely on the strength of his arm to maintain equilibrium. The angle at which his arm is extended in relation to his body completely rules out the possibility of mechanical advantage allowing him to resist the push.
Any structure is only capable of withstanding a force of lesser magnitude than the amount necessary to cause its weakest support to collapse. As I’m sure we are all aware, a chain is only as strong as its weakest link. The human body is no different. In the case of Ueshiba’s demonstration, the “weak link” is the group of muscles responsible for external rotation of the shoulder. Because of the length of the moment arm, and the relative weakness of the muscles involved, little effort is required to move a bokken held in this position. The only way to prevent the arm from moving in relation to the torso is to allow the waist to give way first. The only way to prevent the waist from giving way in relation to the lower body is to allow the hips and legs to move with the force of the push. In any case, the greatest amount of force with which the human body (or any structure, for that matter) is capable of maintaining equilibrium is the amount of force its weakest support is able to apply in the opposite direction. Certainly, the cumulative push of three men would easily be capable of the amount of force necessary to overpower a seventy-year old man’s shoulder. If they were attempting to “fake it”, the force of each man’s push could not possibly be more than a few pounds. A quick glance at the dramatic body positions on the part of the pushers goes a long way in ruling out this possibility. One can easily assume they are exerting a great deal of effort.
Luckily, Ueshiba was filmed performing this feat (with a single uke) on an American television documentary titled Rendezvous with Adventure. When I heard this, I quickly bought a copy and set about trying to decipher what Ueshiba was doing. Of course, it didn’t help much, and I was still left with the vague impression that perhaps there really was something miraculous going on. I just couldn’t seem to figure out how Ueshiba could deal with the great amount of leverage given up to the uke.
Then, it finally hit me. What if Ueshiba wasn’t resisting a push at all? Would we really have any way of knowing? What if the uke was engaging in a push-pull action of both arms simultaneously? What if the instructions to the uke were to move Ueshiba’s hand and not the bokken itself? Because the uke is wearing long sleeves, there is no way for the viewer to see which muscles are contracting and which are relaxing. We assume he is pushing with both hands, but there is no evidence that this is occurring at all.
(As an aside, it should probably be noted that it is possible the uke was instructed to engage in a horizontal translation of the bokken rather than attempt to rotate it around some vertical axis. If this were the case, the action necessary on the part of the uke would still fall under the category of push-pull. Because of the stability of the end of the bokken nearest Ueshiba, the uke would be forced to use his far hand to pull and his near hand to push. A two-handed push would still not be possible under these conditions.)
Indeed, it seems that this is where the real beauty of the trick lies—as a simple demonstration of our innate ability to fool ourselves and see what we choose to see based on our assumptions. Close inspection of the film reveals a number of clues as to what may really be happening:
1. The uke switches foot position with each exertion of force. While I initially thought this may have just been theatrics, it makes much more sense if the position change is to provide the uke with greater mechanical advantage to twist the bokken back and forth with a push-pull action.
2. During the second repetition of the “push,” Ueshiba takes a small step back to the weak point in his stance after the uke switches to put his right leg forward. This is significant because if the uke’s action were a strict push, Ueshiba would have no need to bring his left foot back. If we think of the uke’s action as a push-pull, however, the reason for this step becomes clear. The direction of the force applied to the bokken changes and Ueshiba must compensate by bringing support to the weak point of his stance. So, either Ueshiba just stumbled during the “grounding” of an incoming horizontal force or the uke’s action was a push-pull.
3. The uke’s front foot never becomes “unweighted.” Try this: stand in front of a wall in a forward-weighted stance (one leg back) and push against the wall as hard as you can. What do you notice about your front leg? You should be able to easily lift it off the ground while pushing into the wall with all of your strength. In this position (one leg forward, one leg back, hips square), the amount of force you can push with decreases as the weight on your front leg increases. Now watch the film, paying particular attention to the uke’s front leg. As the front leg never becomes “unweighted,” we can assume that he is either not pushing very hard or is engaging in a push-pull type action. While it would be possible to engage in a push-pull motion with all of one’s weight on the rear leg, this weight distribution is an absolute requirement when executing a full-force two-handed push on an immovable object.
4. With each exertion of force on the part of the uke, a slight movement of the shoulders is seen which matches what would occur if the action was a push-pull rather than a push. The shoulders do not remain completely parallel to the bokken, which is what one would expect if the action were strictly a two-handed push.
5. During the final “throw phase” of the performance, Ueshiba is seen to rotate the bokken with a counterclockwise (from the camera’s perspective) movement of his right hand. What stands out here is that the uke’s right hand remains relatively stationary while Ueshiba begins the release. If the uke was engaging in a two-handed push, one would expect both arms to move forward at this point. This, however, is not the case, and the uke is clearly seen to stumble forward as the push with his left hand brings him off balance and to the ground. The uke’s right hand maintains a grip on the bokken throughout much of the release. The whole movement is consistent with the assumption that the action employed by the uke is one of push-pull rather than a strict push. The uke was most likely not pushing forward with both hands to begin with.
It is important to note that although each of these effects is apparent when the trick is performed with a single uke, the same cannot be said of a performance involving multiple uke. The reason for this is that when multiple people are involved, they will inevitably get in each other’s way to some degree. Each person will most likely attempt to rotate the bokken around a different axis than the others and may even be attempting to do so in the opposite direction. Thus, the force Ueshiba must contend with in the case of multiple uke is actually less than the amount of force that would be contributed by a single uke. For this reason, the performance in Rendezvous with Adventure provides the greatest insight into what may actually be occurring.
Obviously, none of this completely rules out the usage of an unknown force. That is still a possibility, unlikely though it may be. It is important to realize that any mystical explanation, no matter how unlikely, cannot be completely disproven. One can only suggest more likely possibilities. In light of the evidence shown by the photographic and film records, no other possibility seems nearly as likely as the use of a push-pull action on the part of the uke. Unfortunately, it is impossible to prove what exactly is occurring. Instead, we can only ask, “Which seems a more likely explanation?”
Some of you may be saying at this point, “But that isn’t even a good demonstration” or “Even I could do that!” I would definitely have to agree. It isn’t a good demonstration, and, yes, you certainly could do it. The uke doesn’t have nearly the amount of leverage necessary in this situation to move Ueshiba’s hand. The trick doesn’t demonstrate anything other than how not to use a lever. It isn’t really a viable presentation of any kind of skill, but that most definitely does not mean this isn’t what Ueshiba was doing. Again, you have to ask yourself, “What is more likely?” Things are not always what they seem.
There is absolutely no evidence to support the common assumption of a strict two-handed push being executed by the uke. On the contrary, objective viewing of the photographic and film records reveals subtle body movements consistent with what would occur if the motion itself were of a push-pull type. As the human body is utterly incapable of supporting the forceful push of a grown man (let alone three) in the manner often described, this push-pull explanation seems most likely. While, by all accounts, Ueshiba was an amazing budoka, he certainly was not capable of operating beyond the bounds of human potential.
As aikido continues to grow and develop in the hands of today’s practitioners, perhaps it is best that apocryphal anecdotes of superhuman powers be left at the wayside. In this way, the modern generation of students and teachers can devote their full energies to personal development and the rational explanation and expansion of the full range of technique. While history has its place and must obviously be respected, only in looking toward the future can aikido develop to its full potential. Aikido’s greatness cannot be realized by viewing the art as a vast repository of lost knowledge that can only be rediscovered through unquestioning adherence to tradition.

*adopted from Richard Garrelts is a martial artist and physics major at the University of Nebraska–Kearney

Mei 26, 2008

Aikido Reflow

Diarsipkan di bawah: Artikel Aikido — LastSamurai @ 12:52 am
Tags:

Aikido Reflow. Kebetulan tulisan ini mengawali blog pertama ini tentang Aikido. Kata2 reflow digunakan pada salah satu dojo di Jakarta. Kebetulan kata reflow pertama kali muncul di situs blog juga http://dougt.wordpress.com/ 

“Reflow is the process by which the geometry of the layout engine’s formatting objects are computed

Kalau dari artikel tersebut kita bisa ambil kesimpulan bahwa proses suatu teknik dari Aikido (merupakan layout) dapat disusun secara teratur melalui proses perhitungan atau computing.

Menarik bukan, karena teknik Aikido ini bisa disebut seni kalau dilihat dari sisi keindahannya, beberapa praktisi master bahkan mempertontokan suatu hal yang seolah-olah melwan hukum alam, padahal sesungguhnya master tersebut ‘bersahabat’ dengan hukum tersebut…

Artikel di atas tidak berhubungan dengan dojo Aikido Reflow yang ada di Jakarta.

Blog pada WordPress.com.